Mendorong Kepemimpinan Perempuan dalam Sosial Ekologi Nusantara

1
681

Sekretariat Koalisi Perempuan Indonesia berkesempatan menghadiri acara Mendorong Kepemimpinan Perempuan Mengurusi Sosial Ekologi Nusantara. Acara ini diselenggarakan di Kampus UI Salembah, Gedung IASTH lt.3 pada Selasa, 23 Juni 2015. Acara disambut oleh Mia Siscawati, PSKG-UI dan Eko Cahyono dari Sajogyo Institute.

Setelahnya, diadakan peluncuran buku Panggilan Tnah Air karya Noer Fauzi Rachman (Sajogyo Institute). Buku ini merupakan rekam pengalaman perjuangan agraria Indonesia selama 30 tahun. Noer berpendapat bahwa sulit untuk membuat perjuangan perempuan terlihat dan ditiru oleh perempuan lainnya. Krisis agraria terjadi karena adanya kapitalisme, dimana negara tidak mampu melindungi masyarakat yang tak memiliki tanah. Perubahan tata guna tanah yang dulunya merupakan persawahan dan perkebunan berubah menjadi tambang hingga bangunan industri. Perubahaan sosial didorong adanya reorganisasi ruang oleh kapitalisme yang menyebabkan masyarakat memilih berpindah ke daerah kota.

Tak hanya itu, situasi tersebut diperparah dengan adanya masyarakat ekonomi ASEAN. Posisi Indonesia sekarang serupa dengan masa penjajahan kolonial, Indonesia menjadi negara yang diambil sumber daya alamnya, kemudian negara maju yang mengontrol harga pasar. Tak hanya itu, lemahnya pengawasan pemerintah dan masyarakat akan lingkungan membuat persediaan sumber daya alam menipis dan rusak. Pada akhirnya terjadilah konflik agraris kronis, masyarakat sulit mendapatkan tempat tinggal, penghasilan, dan akhirnya sulit bertahan hidup.

Acara dihadiri oleh perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Yeti Rusli. Menurut Yeti filosofi dasar dari pengelolaan sumber daya alam adalah menyadari bahwa manusia hanya memiliki datu bumi dan generasi mendatang memiliki hak untuk tinggal di bumi dengan sumber daya alam yang memadai.

Acara juga diisi dengan cerita dari perempuan yang berjuang demi menjaga lingkungannya serta berkontribusi bagi masyarakat sekitarnya yaitu Nissan, Rusmedia (Sumatera Utara), Aleta Braun (Molo, Nusa Tenggara Timur). Gunarti (Pati, Jawa Tengah), dan Eva Bande (Sulawesi Tenggara).

Pada sesi kedua seminar membahas mengenai peran dan representasi perempuan pemimpin dalam mengurus krisis sosial-ekologi. Sesi singkat ini diisi oleh Mia Siscawati PhD (PSKG-UI) dan Edi Suprapto (Pemred RCTI).

(GS)

SHARE
Previous articleDimana Negara?
Next articleRahajeng Galungan lan Kuningan
Perjuangan menuju kesetaraan gender bukan hal yang tidak mungkin.

1 COMMENT

  1. Buku ini mengulas tentang kerusakan ekologi dan sosial yang terjadi di negeri ini hingga memanggil pada insan, anak negeri, termasuk para perempuan untuk memulihkannya. Dia melihat, di berbagai daerah, petani makin berkurang.

Comments are closed.