Kliping Media IWD 2011

0
464

Pakai Pengeras Suara, Pendemo Istana Ditegur

VIVAnews – Sekitar 200 orang yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara ditegur aparat kepolisian. Pasalnya, mereka bersikeras menggunakan pengeras suara saat berdemo.

Pendemo yang mengatasnamakan diri Barisan Perempuan Indonesia itu berorasi Selasa 8 Maret 2011 untuk menuntut hak-hak perempuan dalam ruang lingkup politik dan sosial. Dengan kekuatan dua pengeras suara, mereka mulai membacakan 10 tuntutan dalam memperingati Hari Perempuan internasional.

Di tengah-tengah aksi itu, salah satu petugas bernama Firman mendatangi koordinator pendemo. “Mbak, jangan pakai pengeras suara karena mengganggu kegiatan di dalam istana. Di dalam sana ada Presiden Filipina,” kata dia.

Pendemo pun mematikan pengeras suara yang dibawa menggunakan mobil. Lantas, para perempuan ini menggunakan pengeras suara yang lain.

Polisi kembali menegur. Sempat terjadi adu argumen karena pendemo bersikukuh pengeras suara yang mereka gunakan tidak akan terdengar sampai ke dalam istana. Namun, aparat tetap melarang penggunaan pengeras suara tersebut.

Sejumlah tuntutan yang disampaikan aksi ini diantaranya, menuntut pemerintah menurunkan harga bahan pangan, mendukung keterwakilan perempuan dalam politik dan ruang publik, serta kemudahan akses layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan bagi perempuan.

HARI PEREMPUAN

Aktivis dari Barisan Perempuan Indonesia (BPI) dan Gerakan Perempuan Anti Diskriminasi (GADIS) berunjuk rasa memperingati Hari Perempuan Internasional di depan Istana Negara, Jakarta Pusat (Selasa 8/3). Mereka menuntut pemerintah mencegah diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. DWI PAMBUDO/RM

 

Belasan Perempuan Bawa Keranda ke Istana Merdeka

Senin, 8 Maret 2010 – 12:13 WIB

JAKARTA (Pos Kota)-Memperingati Hari Perempuan Internasional, puluhan orang  dari Komisi Kesetaraan Nasional – Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (K2N-KSBSI),Barisan Perempuan Indonesia (BPI), Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI) dan Gerakan Perempuan Peduli Pemuda Harapan Bangsa (P3HB) demo di Bundaran Hotel Indonesia dan depan Istana Merdeka manyuarakan aspirasi mereka, Senin (8/3) sejak pukul 09.20 Wib.

Meski ada demo, namun arus lalu lintas terpantau lancar, dikarenakan aksi demo berjalan dengan tertib.Petugas Lalu Lintas maupun Samapta terus siaga dil okasi guna mengamankan jalannya aksi unjuk rasa.

Sementar aitu 25 perempuan dari Solidaritas Perempuan demo di depan Istana Merdeka JakartaDalam demo tersebut, mereka membawa keranda mayat mengelilingi depan Istana Merdeka  sebagai simbol penderitaan terhadap perempuan.

Mereka berorasi sambil meneriakkan  yel-yel “Hidup Perempuan!!”. Aksi kemudian dilanjutkan dengan aksi teatrikal sebagai simbol penderitaan perempuan seperti penyiksaan terhadap TKW. Pedemo juga menolak poligami, dimadu dan kawin siri oleh suami-suami mereka.

Aksi yang  berakhir pukul 11.15 itu pendemo meminta tanggung jawab negara untuk memberi perlindungan kepada peremuan khususnya buruh migran, mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan yang menyengsarakan perempuan. (rihadin/B)

Hari Perempuan Internasional

Saatnya Perempuan Bersatu Atasi Krisis

Korban terbesar dari krisis dunia adalah perempuan. Perlu persatuan organisasi perempuan tingkat lokal dan internasional.

  • Endang Setiawati / Arwani
  • 8 Maret 2011 – 17:57 WIB

VHRmedia, Jakarta –Aliansi organisasi perempuan Barisan Perempuan Indonesia, Gerakan Perempuan Anti Diskriminas, dan Komunitas Indonesia Adil dan Sejahtera menggelar aksi bersama memperingati Hari Perempuan Sedunia di depan Istana Negara, Selasa (8/3).

Mereka menyerukan 10 Tuntutan Perempuan Keluar dari Krisis. Antara lain, turunkan harga bahan pangan, keterwakilan perempuan dalam politik dan ruang publik, serta mencabut kebijakan yang mendiskriminasikan perempuan. Mereka juga mengajukan solusi perempuan keluar dari krisis dengan membangun persatuan organisasi-organisasi perempuan di tanah air dan bersoladiritas dengan organisasi perempuan di seluruh dunia.

Aksi dikuti 200 perwakilan dari berbagai organisasi perempuan dari region Sumatera, Kalimantan, Jabodebatek, Jawa, dan Sulawesi dengan membawa isu di wilayah masing-masing. Region Jawa Barat, misalnya, mengemukakan isu kekerasan berlatar agama, Kalimantan dengan isu trafficking, Sulawesi Tenggara dengan penguasaan sumber air oleh swasta.

Koordinator aksi, Lina dari Koalisi Perempuan Indonesia, mengatakan krisis global berdampak sangat buruk terhadap perempuan, terutama di pedesaan yang sulit mengakses layanan kesehatan. Banyak perempuan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Kenyataan ini tidak pernah  disentuh.

“Kondisi ini tidak hanya terjadi pada perempuan di Indonesia. Perempuan di dunia mengalami krisis karena dicabutnya subsidi untuk rakyat. Artinya, perempuan menanggung krisis itu. Kalaupun ada MDGs dan berbagai solusi yang ditawarkan, sebenarnya itu upaya penyembuhan krisis kapitalisme bagi dirinya sendiri,” kata Lina. (E4)

Foto: VHRmedia / Endang Setiawati

 

Ratusan Wanita Mulai Padati Monas

Tribunnews.com – Selasa, 8 Maret 2011 11:03 WIB

Tribunnews.com/Iwan Taunuzi

Demo ratusan wanita memperingati hari perempuan internasional di Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/3/2011)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ratusan perempuan yang tergabung dalam Barisan Perempuan Indonesia (BPI) mulai memadati depan Istana Negara, Jakarta. Mereka akan melakukan aksi untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada hari Selasa (8/3/2011), hari ini.

Koordinator aksi, Dewi Komalasari mengatakan, sedikitnya 300 orang akan bergabung dalam aksi. Mereka ini berasal dari sejumlah daerah, yakni Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.

“Nanti dalam aksi akan digambarkan kondisi perempuan di masing-masing daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan aksi ini perlu dilakukan mengingat hingga kini kondisi krisis perempuan belum mengalami perubahan dibanding tahun lalu.

Menurutnya, kondisi perempuan saat ini yang buruk, sama artinya dengan ambruknya bangunan masyarakat dan negara.

 

 
DEMO RATUSAN WANITA DI DEPAN ISTANA NEGARA
Selasa, 08 Maret 2011

Ratusan Wanita Mulai Padati Monas

+ Text –

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ratusan perempuan yang tergabung dalam Barisan Perempuan Indonesia (BPI) mulai memadati depan Istana Negara, Jakarta. Mereka akan melakukan aksi untuk memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada hari Selasa (8/3/2011), hari ini.
Koordinator aksi, Dewi Komalasari mengatakan, sedikitnya 300 orang akan bergabung dalam aksi. Mereka ini berasal dari sejumlah daerah, yakni Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua.

“Nanti dalam aksi akan digambarkan kondisi perempuan di masing-masing daerah,” ujarnya.

Ia menambahkan aksi ini perlu dilakukan mengingat hingga kini kondisi krisis perempuan belum mengalami perubahan dibanding tahun lalu.

Menurutnya, kondisi perempuan saat ini yang buruk, sama artinya dengan ambruknya bangunan masyarakat dan negara.

Ratusan Perempuan Tagih Janji Kampanye SBY-Boediono

Barisan Perempuan Indonesia (BPI) menagih komitmen pemerintah untuk memperbaiki kondisi kritis perempuan. Pasalnya, hingga kini pemerintahan SBY-Boediono dinilai telah mengabaikan fakta tentang krisis ini. Yang terjadi pemerintah justru menjejali masyarakat dengan data-data fiktif kemiskinan dan kondisi krisis perempuan.

Menurut Ibet, seorang narator teatrikal dalam aksi yang dilakukan BPI ini. Faktanya 40 persen perempuan dunia dan Indonesia, bergiat di dunia kerja. Sebesar 70 persen dari 1,3 miliar penduduk miskin dunia hidup kurang dari satu dolar AS per hari.

“Perempuan menghabiskan 50-70 persen waktu untuk kerja yang dibayar. Perempuan juga menghabiskan dua kali lipat waktu dibanding laki-laki untuk kerja tak dibayar,” kata Ibet di depan Istana Negara, Selasa (8/3/2011).

Tak hanya itu, Ibet menambahkan, prempuan mengalami kekerasan fisik, psikologis dan seksual sebagai tenaga kerja dibayar maupun tak dibayar, bahkan perempuan menjadi sasaran fundamentalisme agama untuk tubuh dan kebebasa politiknya.

Fakta tersebut ternyata mudah diabaikan oleh pemerintah. Solusi pemerintah melalui program BLT, kredit PNPM Mandiri serta MDG’s tetap membuat perempuan tak mampu mengubah kondisi krisisnya.

“Buktinya akses pearempuan tidak setara terhadap sumberday alam, institusi keuangan dan institusi politik. Solusi negara bukan dalam kerangka perlindungan sosial perempuan melainkan penyelamatan lembaga-lembaga keuangan kapitalis dari krisis dunia,” ungkanya

 

NO COMMENTS